Aku dan KPR
Siapa yang tidak mendambakan hunian cantik dan nyaman ketika membangun sebuah keluarga.
Ya, begitupun kami, menikah tahun 2012 dengan mendabakan sebuah rancangan rumah masa depan penuh kriteria dan imajinasi. Merencanakan budget, menimbang lokasi, mendambakan design mumpuni dan kenyamanan tak terkira dengan ekspektasi tinggi haha wajarrr namanya aja mimpi, berkhayal dulu hahahahaaha. Namun karena kami masih berpindah-pindah kota karena masih terkait pekerjaan yang bisa dimutasi kapan saja tentu menjadi pertimbangan utama agar supaya rumah yang kami beli tepat guna dan manfaatnya. Seperti halnya keluarga lainnya yang enggan mengambil KPR karena terkait hutang panjang, kami sangat berharap bisa membangun sebuah rumah dengan konsep yang kami miliki suatu saat nanti. Segala proses panjang mengenai pemikiran sebuah rumah berkahir juga menjelang usia pernikahan 7 tahun. Kembali kekenyataan bahwa membangun sendiri rumah adalah hal yang sangat susah dilakukan era sekrang dimulai dari pembelian tanah, perijinan yang sepertinya akan susah bagi kami terlebih terkendala dana. Akhirnya memutusan untuk mengambil KPR sebuah rumah dengan banyak pertimbangan situasi dan kondisi. Banyak yang bilang KPR itu jatuhnya mahal bahkan lebih mahal dari harga asli rumah tersebut karena kita meminjam dana dari bank, benar tapi dengan pertimbangan kami saat ini membeli hunian dengan cara KPR adalah cara yang bisa kami tempuh saat ini. Mengenai perdebatan tentang KPR atau cash biarlah tetap menjadi perdebatan, kami sendiri sudah yakin dengan langkah ini dengan catatan jumlah cicilan yang harus kami bayarkan tidak melebihi 30% dari pemasukan kami.
Apakah mudah mencari sebuah rumah? jawabnya adalah tidak semudah itu, mencari rumah seperti bertemu dengan jodoh, kalau belum jodohnya ada saja halangannya. Jadi seperti apa kami bisa menemukan rumh kami saat ini? Butuh waktu kurang lebih 2 bulan lebih untuk menemukan rumah, dari satu marketing ke marketing lainnya, dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Apa yang menjadi poin penting kami dalam mencari rumah?
1. Lokasi
2. Harga sesuai budget
3. IMB
4. KPR dengan Bank yang kami inginkan
5. Sertifikat sudah pecah
6. Siap Huni
Akhirnya kami menemukan sebuah hunian yang pas dengan poin diatas, rumah tipe minimalis di lingkungan asri, aman dan kondusif dengan luas tanah 114 m2. Semoga ini merupakan pilihan yang tepat dengan lokasi yang tidak terlalu jauh dari pusat kota. Pembayaran DP 30% dengan tenor 10 tahun, semoga kami dimampukan untuk membayar cicilan terlebih bisa melunasinya lebih cepat. Oiya, jangan lupa sebelum mencari rumah mencari tahu kredibilitas dari si pengembang dan bagaimana lingkungan sekitar.
Yang menjadi poin adalah :
Pertama, jangan resah jika sudah menikah tapi belum juga punya rumah karena setiap rumah tangga pasti mempunyai pertimbangan masing-masing yang tidak bisa dipukul sama ratakan dengan orang lain.
Kedua, rumah itu kaya jodoh kalau belum berjodoh ya sabar dulu.
Ketiga, memiliki rumah terlebih dengan cara KPR harus penuh perhitungan dan pertimbangan karana komitmen kita mencicil sepanjang tenor yang telah disepakati.
Keempat, jangan terlalu bernafsu memiliki rumah tetapi belum sebanding dengan kemampuan mencicil kita. Presentasi dana cicilan kita baiknya maksimal 30% dari pemasukan kita supaya kita masih bisa menyisakan alokasi untuk dan lainnya.
Kelima, jika tidak mau menggunakan cara KPR bisa dilakukan dengan cara membangun sendiri dicicil sedikit demi sedikit dengan cara membeli lahan dst nya.
Keenam, mengisi rumah tidak seinstan itu, beli perabotan dari yang benar-benar dibutuhkan paling utama.
Ketujuh, bahwa memiliki rumah dengan LB dan LT yang sempit era sekarang adalah hal wajar mengingat harga tanah yang melabung seiring lahan yang semakin sempit.
Kedelapan, nyaman iu menurut takaran kita bukan karena takaran oarng lain. Jadi jangan terlalu mencemaskan pendapat atau omongan orang lain ya.
Kesembilan, setiap membeli dengan cara KPR jangan kaget dengan dramanya tidak semua tapi pasti sebagian besar pernah mengalami misalnya BI Checking lama, sudah melakukan booking fee ternyata batal , dll.
Kesepuluh, pikir masak-masak dengan segala komitmen dan perhitungan dan cek enar-benar segala dokumen sehingga kita tidak menyesalinya.
Sekian~
Komentar
Posting Komentar